Pagar Alam

Calon Walikota Pagar Alam 2018: Ida Fitriati dan Novirzah Masih Terkuat

Pengamat, Ida Fitriati dan Novirza Masih Terkuat Calon Wali Kota Pagaralam 2018-2022

Pagar Alam, Kabarsumsel.com – Pengamat Politik Kota Pagaralam Sahabudin mengatakan, berdasarkan kondisi yang ada saat ini pertahana masih kuat. Pasalnya, dari hasil poling berbagai lembaga survey, Walikota Pagaralam dr Hj Ida Fitriati Basjuni masih berada diperingkat pertama, diikuti Wakil Walikota Pagaralam Novirzah.

Namun, calon lain yang masuk juga mendapatkan apresiasi dari masyarakat seperti Alpian, Hermanto, Gunawan, Agus Efendi dan lainnya. Ini berarti, Pilkada Kota Pagaralam akan berlangsung cukup menarik.

“Tinggal nanti, para calon ini memperebutkan partai agar bisa maju. Melihat jumlah kursi, paling tidak ada tiga pasang calon yang akan bertarung,” ujar dia.

Meskipun pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kota Pagaralam tinggal menghitung bulan saja, namun sudah banyak Bakal Calon Wali kota ‎(Balon) yang blusukan, maka dengan itu Wali kota Hj Ida Fitriati menghimbau agar selalu menjaga kedamaian dan tidak minimbulka keresahan di dalam masyarakat.

Wali kota Hj Ida Fitriati Basjuni mengimbau agar warga jika ada yang mengajak dan tidak berhalangan untuk datang sebagai bentuk silaturahmi.

“Memang tahapan Pilkada Juni 2017 mendatang, maka kondisi yang ada saat ini siapa saja bisa maju untuk mencalonkan diri menjadi Wali kota dan Wakil Walikota Pagaralam,” ungkap dia.

Siapa saja, kata Ida, bisa menjadi calon baik laki-laki atau perempuan.
Sebentar lagi Pilkada, ntuk itu, kita sudah harus berpikir rasional. “Nantinya, balon yang masuk tidak hanya yang mencalon dari suku besemah, laki-laki atau perempuan. Selagi lulus seleksi maka bisa mencalonkan diri,” ungkap Ida.

Ia mengatakan, dengan Pilkada yang ada, pihaknya berharap kondusif. Apalagi, banyak bakal calon yang sudah blusukan. Untuk itulah, pihaknya mengharapkan kalau masyarakat diundang dan tidak ada halangan untuk hadiri. Kalau tidak senang kiranya menolak dengan baik-baik.

“Kalau ada yang ngundang kumpul diharapkan hadir jika tidak berhalangan. Jika tidak senang, menolaklah dengan santun. Hal ini agar tidak terjadi perpecahan dimasyarakat,” tuturnya.

Ditambahkan Ida, kemudian masyarakat jangan mudah ribut, lantaran tahapan masih panjang. Sebab, yang mencalonkan diri harus lulus administrasi, lulus kesehatan, memiliki partai pendukung dan persyaratan lainnya. Jadi, boleh dukung mendukung jika calon yang akan didukung sudah lulus seleksi di KPU.

“Jika pendukung sudah ada, kemauan ada tetapi tidak ada partai maka tidak akan lulus. Jadi, kiranya boleh berdebat dan menentukan pilihan jika calon sudah lulus seleksi di KPU,” ujarnya.
(hb/rel)

Beri Komentar

Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

STIA
To Top