,

Esensi Puasa Ramadan, Pengendalian Diri, Sekaligus Melatih Kepekaan kepada Nasib Kaum Papa

oleh -84 Dilihat
Iksan Agus Abraham

Oleh : Iksan Agus Abraham, SH

BENGKULU, infosumatera.com-Sekarang kita telah berada di bulan suci Ramadan 1447 H. Kewajiban puasa ada di dalam Al-quran Surat Al-Baqarah ayat 183

Arti ayat itu ialah, “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atasmua berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, mudah-mudahan kamu menjadi orang yang bertaqwa.

Seperti Ramadan yang sudah-sudah, Mukminin-mukminat, Muslimin-muslimat di seluruh dunia akan berpuasa yakni menahan tidak makan dan minum mulai dari terbit Matahari sampai terbenamnya di ufuk barat.

Penulis kini berusia, 52 tahun lebih 6 bulan, dan sudah berpuasa sekitar 45 tahun lamanya. Penulis juga tidak mengetahui apakah puasa yang telah penulis lakukan diiterima oleh Allah. Namun penulis berharap semoga Allah menerima semua puasa kita. Aamiin yaa Robbal aalamiin.

Penulis memulai belajar puasa sekitar umur 7 tahun. Waktu itu dikenal dengan sebutan puasa setengah hari atau puasa hingga waktu masuk salat Zuhur.

Esensi puasa yang sebenarnya adalah bukan kepada menahan makan atau minum namun lebih kepada pengendalian hawa nafsu. Karena dibalik perintah puasa ada tujuan yang ingin diraih menjadi insan bertaqwa.

Secara harafiah, taqwa adalah menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangannya.

Allah memberikan larangan agar kita menjauhinya, supaya terhindar dari dosa. Untuk memahami makna dosa, barangkali penjelasan dari Hadist Rasulullah SAW ini dapat kita pakai.

Menurut Baginda Nabi Muhammad SAW ialah, apa-apa yang meresahkan hati itu, adalah dosa.

Berarti ukuran perbuatan dosa semuanya ada di dalam hati atau Qalbu kita, Bila qolbu berbicara maka hal tersebut merupakan sinyalemen perbuatan kita berpotensi atau sudah menimbulkan dosa.

Mungkin inilah yang dimaksud dengan sebutan hati Nurani. Semua insan di dunia mempunyai hati Nurani.

Kepekaan hati Nurani ini dapat berbeda-beda bergantung kepada ketaqwaannya. Orang -orang saleh mengatakan puasa Ramadan berfungsi untuk  melatih kepekaan.Apa contoh kepekaan yang dilatih dari puasa Ramadan?

Kepekaan kepada penderitaan orang lain. Penderitaan karena miskin tidak berharta , kepekaan karena hidup Papa.

Orang papa, tidak berharta hidup sulit, sulit mencari makan, sulit mendapatkan harta, mereka menderita setiap hari.

Lapar karena puasa dapat melatih semuanya, sehingga kita menjadi peduli kepada mereka.

Inilah waktunya kita memperdulikan kaum miskin dan lemah, membantu mereka dari kesulitan hidup ekonomi mereka.

Ada suatu kisah, di zaman para sahabat Nabi, seorang calon haji yang terpaksa batal berangkat haji, karena justru harta yang ia punya disedekahkan untuk tetangganya yang kelaparan.

Namun karena ketulusannya itu justru ia telah tercatat sebagai seorang Haji yang mabrur melalui mimpi seorang sahabat lainnya setelah mendengar percakapan dua orang Malaikat.

Di sinilah letak dari esensi berpuasa yang dlakukan sebulan penuh setiap tahun sebagai Upaya membersihkan jiwa-jiwa atau qalbu kita dari dosa itu sendiri.

Makna ini sejalan dengan arti dari Ramadan yakni membakar. Membakar apa? Tentu membakar dosa-dosa.

Maka beruntunglah orang yang mampu mengisi puasanya dengan benar sesuai syariat sehingga ia Kembali seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya bersih tanpa noda dan cela.

Lalu tak ketinggalan selama menjalankan puasa kita dilatih untuk melaksanakan semua amal saleh, baik yang wajib maupun sunnah.

Kita berlomba-lomba memperbanyak amal selama Ramadan tidak lain dan tidak bukan untuk  menyuburkan rasa dalam hati kita bahwanya kita adalah Hamba Allah yang senantiasa tunduk dan Patuh kepadaNya.

Semua itu landasannya adalah taqwa yang akan kita terapkan di sebelas bulan berikutnya setelah Ramadan itu sendiri berakhir.

Penulis adalah Imam 2 Masjid Al-Hadi Bentiring Permai Kota Bengkulu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.