Oleh Iksan Agus Abraham, SH
BENGKULU, infosumatera.com-Kadang-kadang saya sempat berfikir, ketika ada hajatan besar, PWI seperti Konferensi Provinsi saya didaulat membaca doa. Tugas itu, menurut saya cukup berat, karena tidak punya kapasitas untuk itu. Salat saja masih bolong-bolong, serta untuk beribadah kadang timbul rasa malas
Meski begitu saya thinking positif. Akhirnya sedikit percaya diri jadi juga membaca doa Dengan langkah gugup naik ke podium. Tak Lupa bawa peci hitam dan kacamata Maklum di usia sekarang sudah 53 tahun, benda tersebut sangat perlu . Kacamata sendiri sudah dikenal sejak peradaban Cina.
Doa bagi saya dan kita semua merupakan permintaan kita kepada Tuhan yang Mahaeasa atau Allah SWT, ataupun nama-nama lain bagi agama-agama resmi di Indonesia agar Dia yang Maha Tinggi mengabulkannya.
Saat akan naik ke Podium saya sempat meliirik ke arah Petahana dan sedikit memberikan anggukan , dan itu direspon sang Petahana dengan memberi senyum khasnya
Sebelum memulai doa saya sampaikan dulu kebiasaan kita memulai doa secara agama Islam sebagai agama Mayoritas dan untuk agama lain silahkan untuk menyesuaikan. Baru setelahnya saya membaca doa berupa ucapkan salam sejahtera bagi kita semua dan salam kebajikan.
Setelah memulai membaca bismillah, mengucapkan salam membaca hamdalah dan salawat Nabi, saya meneruskan membaca doa keselamatan. Kemudian saya susul doa berbahasa Indonesia. Pilihan untuk membaca doa dalam Bahasa Indonesia dikarenakan Mustahil, kita meminta tapi kita sendiri tidak mengerti artinya.
Doanya masih saya hafal, karena malam sebelumnya naskah doa itu sudah saya persiapkan. Dari naskah doa itu saya tulis, Jadikan Konferprov sebagai sarana silaturahmi untuk mengikat kekompakan sesama teman se-Profesi dan bukan sebagai dari perpecahan.
Pagi itu Sabtu 18 Juli 2026, saya di daulat membacakan doa untuk agenda pemilihan Ketua Baru PWI dan Ketua Dewan Kehormatan Periode 2026-2031. Acara itu dihadiri Sekdaprov Dr. Herwan Antoni mewakili Gubernur, Porkopimda, Dinas Kominfotik Provinsi, Kesbangpol dan udangan lain.
Diantara doa saya tulis dan bacakan itu yakni meminta jangan terjadi perpecahan, tetap kompak serta saling menjaga persatuan, Alasannya karena Calon untuk ketua PWI hanya 2 orang. Istilahnya dalam pertempuran terjadi Head to Head.
Setelah melewati persaingan ketat ditandai kejar-kejaran raihan suara, dag-dig dug peserta mulai meningkat, karena sempat beberapa kali mulai dari skor 15 suara sampai ke suara 30 kedudukan sama kuat. akhirnya Incumbent Marsal Abadi berhasil menang tipis dengan Perolehan suara 66 berbanding 63 serta dua suara dinyatakan tidak sah
Sejak awal Konferprov suhu persaingan mulai dan tampak memanas. Para peserta konferprov dari seluruh Kabupaten Kota silih berganti menginterupsi pimpinan sidang hingga jelang pemilihanpun hujan interupsi tak henti-henti dilayangkan peserta Konferprov. Meski suasana memanas tapi situasi tetap kondusif aman dan terkendali. Kedewasaan seluruh peserta tampak terlihat . Para Peserta Konferprov tetap menunjukkan kejiwabesarannya. Kekhawatiran akan terjadinya perpecahan yang saya suarakan lewat lantunan doa sepertinya tidak terjadi.
Saya juga tidak mengetahui apa karena doa itu, atau karena wujud demokratis serta menjunjung semangat persaudaraan, saling menghargai dan mencintai sesama rekan se-Profesi sudah sangat baik di lingkungan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Bengkulu.
Akhirnya selamat untuk Marsal Abadi, SE terpilih kembali menjadi Ketua PWI untuk periode ke-2, Yakni 2026-2031 dan akan didampingi oleh Ketua Dewan Kehormatan Sukatno, M. Si. Sementara untuk calon lain Iud Dwi Mursito jangan patah semangat. Banyak sekali mendoakan untuk kesuksesan dan kemajuan anda sendiri di masa-masa akan datang. Anda masih muda, masih banyak kesempatan indah menanti di depan mata anda.
Penulis Wartawan Senior di Bengkulu








