,

Catatan Ringan, Demokrasi ala RT 04 kelurahan Bentiring Permai Kecamatan Muarabangkahulu Kota Bengkulu

oleh -21 Dilihat
Indra Utama

Oleh Dr. (C) Indra Utama, SE, MM

RT atau rukun tetangga adalah sistem pemerintahan terkecil di negara kita. Proses pemilihannya diserahkan kepada warga atau rakyat setempat.

Walaupun RT merupakan sistem pemerintahan terkecil, tidak semua orang bisa terpilih karena masyarakat akan memilih berdasarkan rekam jejak sebelumnya.

Secara umum, ketua RT terpilih karena ketokohannya di bidang tertentu,masyarakat menilai sebagai kelebihan.

Maka tidak heran jika kita mendengar ada  ketua RT terpilih sudah berperiode-periode, bahkan ada di atas sepuluh tahun, tetapi ada juga hanya satu periode.

Dahulu pemilihan ketua RT dilakukan di rumah warga, masjid atau balai desa dengan pemilihan tertutup. Ketua RT terpilih secara aklamasi karena tidak ada mencalonkan diri atau karena pilihan rakyat  menganggap belum ada tokoh lain bisa dijadikan alternatif.

Di luar konteks tersebut, terkadang ada ketua RT terpilih karena memang memiliki ambisi, sementara tidak ada calon lain.

Di saat tidak ada calon diri sementara ada calon lain  berambisi, tentunya bisa dicarikan alternatif calon lain  tetapi tidak berani sebagai lawan dan punya kans menang. Maka ini bisa diyakinkan dengan kekompakan dan prediksi peta suara (seperti pilkada benaran aja).

Bisa juga terkadang ada di beberapa tempat terpilih melalui money politik tingkat kecil, sekadar rokok maupun lainnya. Tetapi semua itu juga tidak akan menjadi jaminan terpilih.

Ketua RT terpilih bukan karena pendidikan, kekayaan, kepintaran, kegagahan, tetapi karena warga menganggap sosok tersebut mampu memfasilitasi setiap permasalahan yang ada.

Jadi di beberapa tempat, ada ketua RT yang masih muda atau sudah cukup senior. Di beberapa perumahan dosen, terkadang sulit sekali mencari sosok ketua RT, padahal mereka notabene memiliki pendidikan yang tinggi, bahkan ada yang profesor, Anggapan bahwa ketua RT itu dipilih karena tingkatan pendidikan tidak selalu benar.

juga fenomena,sering kita temukan di realitas di lapangan: ada ketua RT suaminya, tetapi dominan istrinya mengerjakan tugas RT. Tentunya semua warga berhak menilai karena mereka yang memilih; jika memang ternyata bagus, ini bukan masalah, bahkan bisa terpilih kembali. Dan ini terjadi di beberapa tempat.

Di luar semua yang sudah ditulis di atas, ada satu lagi sistem pemilihan ketua RT seperti pilkada atau pileg. Pemilihan dilakukan dengan mencoblos kandidat RT.

Pemilih adalah perwakilan warga berdasarkan KK yang tertera di RT. Untuk RT 04 RW 01 Kelurahan Bentiring Permai, pertama kali dilakukan pada bulan Mei 2021.  Ide pemilihan ini berawal dari berakhirnya kepemimpinan RT periode 2018-2021.

Konon di sebuah daerah, beberapa bulan sebelum berakhirnya periode RT yang sedang menjabat tersebut, sudah digaungkan akhir periode oleh salah satu warga, padahal pada saat itu masih sekitar 6 bulan lagi.

Warga tersebut digadang-gadangkan akan mencalon kembali, setelah sebelumnya sudah menjabat dua periode. Memang yang namanya jabatan itu, ada daya tarik sendiri bagi orang tertentu, walaupun banyak yang tidak berambisi karena tidak mau repot, emosi belum stabil, tidak mau pusing, tidak punya waktu, sering kerja di luar. Karena ketua RT akan mengadvokasi urusan warga mulai dari yang enak sampai yang tidak enak.

Bahkan, ada masalah sepele tentang saluran air antartetangga yang juga dilaporkan dari ketua RT sampai ke masalah rumah tangga. Ada sebuah anekdot di sebuah RT. Kata Pak ketua RT, si warga yang ribut, suami istri, melaporkan ke Pak RT. Eh, setelah didamaikan, mereka akur kembali dan sengaja lewat di depan Pak RT dengan mesra tanpa menegur”.

Kembali ke pemilihan ketua RT langsung tadi. Tentunya lucu jika ada pemilihan RT melawan kotak kosong. Sementara sebagian besar tokoh RT yang dianggap layak, tidak mau dicalonkan. Maka dilakukan komunikasi antarfaksi RT melalui grup khusus dan pertemuan khusus.

Alhamdulillah ketemu sosok yang mau dicalonkan walaupun sebenarnya kurang pede/berani face to face. Namun, ini bisa diyakinkan dengan pola pemilihan langsung yang disetel, seperti pilkada, dan fraksi gang 2, fraksi gang 3, dan sebagian kecil fraksi gang 1 sudah melakukan komunikasi dan sepakat memilih calon tersebut. Tentunya nanti komposisi kepengurusan mengakomodasi warga fraksi gang 1.

Pada waktu pemilihan di halaman rumah Pak Roby yang dihadiri oleh Pak Lurah, Babinkamtibmas, dan Babinsa berjalan dengan lancar. Dan sesuai prediksi, kandidat gabungan fraksi gang 2, gang 3, dan sebagian gang 1 terpilih.

Walaupun ketua RT adalah jabatan terkecil di masyarakat, ada yang menganggapnya sebagai amanah yang harus ditunaikan.

Ada juga yang menganggapnya sebagai prestise, sehingga itu harus dipertahankan, sehingga psikologi seorang incumbent akan sensitif di masa-masa akhir jabatan terhadap hal-hal yang menyinggung.

Bahkan ada yang tidak disinggung pun bisa tersinggung, apalagi sengaja disinggung, semuanya ada yang lumrah.

Di zaman perkembangan teknologi sekarang, pola komunikasi masyarakat yang sebelumnya berkumpul di tempat resmi, saat ini beralih ke medsos sebagai alternatif. Ini menjadi booming sejak covid-19.

Oleh karena itu, kita bisa menemui grup mendsos, misalnya, grup daerah, alumni, tempat kerja, masjid, Risma, RT dan sebagainya.

Saat ini hampir semua orang bebas mengapresiasi apa yang dimiliki, tentunya tetap dalam batas-batas koridor. Namun, konsekuensi sebuah mendsos adalah warga grup tidak boleh mudah baper, tersinggung, atau yang lainnya. Karena bahasa tulisan dengan bahasa lisan berbeda sekali maknanya.

Banyak manfaat yang bisa didapat dari grup-grup mendsos tersebut: info-info baru, pengumuman, bahkan sampai mencari jodoh. Ada yang didapat di medsos. Untuk yang belum siap, lebih baik keluar dari grup karena bagaimanapun pasti akan ada hal-hal yang tidak kita sukai. Sebenarnya, kalau itu dilakukan, sama dengan kita keluar dari kelompok masyarakat.

Triknya simpel saja, jika ada upload-an yang tidak disukai, hapus untuk diri kita sendiri atau jangan pernah dibuka.  Salam Kompak (IUB).

Penulis adalah Kandidat Doktor dari Universitas Negeri Malang dan juga seorang Pegiat sosial

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.