,

Bedah Tulisan Wartawan, oleh-oleh Memeriahkan Konferprov Persatuan Wartawan Indonesia

oleh -56 Dilihat
Iksan Agus Abraham

Oleh Iksan Agus Abraham, SH

Akhir-akhir ini saya sedang rajin membaca. Bacaanya adalah kegiatan Konferensi Provinsi ( Konferprov) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Menurut saya bacaan tersebut wajar, ditulis oleh para wartawan karena konferprov menjadi ajang demokratis untuk  wartawan mendapatkan siapa nahkoda tempat organisasi mereka bernaung.

Jika tidak ada kendala  3 hari ke depan Para Wartawan se-provinsi Bengkulu bakal menggelar hajatan besar yakni memilih ketua baru periode 2026-2031. Mari kita doakan  agar Konferprov tahun 2026 berjalan sukses.

Peristiwa Konferprov itu jadi momentum sejarah bagi para pemburu berita, mengingat sosok ketua memiliki andil sangat besar membawa arah kemajuan bagi sebuah organisasi sekelas PWI.Pada tulisan kali ini, saya tak akan menyoroti momentum Konferprovnya, melainkan bobot tulisan si penuis. Bagi saya, pelan namun pasti bobot-bobot tulisan wartawan di Bengkulu semakin baik.

Mungkin itu, baru pendapat pribadi saya, sebagai juga seorang wartawan selama 15 tahun malang melintang di dunia jurnalistik dan kini tengah meniti karir menjadi advokat di Bengkulu.

Saat masih bekerja menjadi wartawan di RBMG, seorang wartawan muda baru masuk, yang saya lupa namanya pernah berujar, seperti ini, ”Kalau membaca berita abang, seperti sedang membaca berita-berita nasional, ”(maksud pertanyaan itu  dari cara saya menulis).  Saat itu saya senyum-senyum

Pengalaman tersebut perlu saya bagikan, supaya tulisan hasil karya wartawan tersebut memenuhi syarat guna diterbitkan. Syarat itu ternyata tidak cukup, karena biasanya dalam proses penerbitan sebuah tulisan atau berita melewati tahapan penyuntingan. Selanjutnya barulah ditayangkan untuk dibaca oleh pembaca atau masyarakat.

Syarat-syarat tersebut wajib dimiliki oleh penulis, karena keadaan masyarakat sekarang sudah berubah. Informasi bukan lagi sebagai alat pemberitahuan saja melainkan sudah menjadi cara untuk  memberi pencerdasan bagi pembaca, berupa menerima informasi akurat, berimbang, berwawasan dan berbobot.

Bobot tulisan yang saya maksud mulai aspek, kosa kata, penggunaan kalimat aktif dan kalimat pasif, pemilihan diksi, referensi ilmiah yang dijadikan rujukan penulis semakin cair, lengkap dan konfrehensip. Pembaca sekali duduk telah memahami maksud serta arah tulisan dari si penulis.

Konsep seperti ini, juga dapat diterapkan saat seorang wartawan menulis sebuah berita, jangan bertele-tela, langsung munculkan masalah, dan apa solusinya. Pemilihan kata atau diksi harus tepat, jangan boros dalam menggunakan kalimat, lantaran karena harus memenuhi sebuah berita. Untuk apa kalimatnya panjang-panjang tapi hanya mengulang-ulang kalimat. Justeru hal itu wajib dihindarkan oleh para wartawan

Dunia moderen dan digiital seperti sekarang inilah, yang dibutuhkan oleh pembaca, masyarakat sekarang membutuhkan solusi atau jalan keluar dari seperti persoalah di tengah masyarakat

Banyak faktor agar tulisan memiliki bobot yang baik, mulai dari kebiasaan menulis, pengalaman intelektual wartawan itu sendiri, serta kemampuan komunikasi mumpuni dalam melebarkan jejaring. Para penulis atau wartawan baik muda, madya atau utama, termasuk wartawan senior sekalipun  jangan berhenti menulis, kuasai kiat-kiat menulis, kuasai bahasa-bahasa jurnalistik agar tulisan tetap menarik buat di baca

Pada dasarnya teknik menulis itu bisa dipelajari, asalkan memiliki tekad kuat untuk  berkembang. Jaga sikap jujur dalam menulis serta perlu dikembangkan. Bila dikaitkan dengan kode etik wartawan disebutkan seorang wartawan saat menulis harus dengan itikad baik. Melalui itikad baik jelas akan diperoleh hasil penulisan bermutu tinggi.

Prinsip dalam jurnalismen the bad news is good news pada prinsipnya masih diperlukan sebagai alat kontrol sosial dan pengingat akan bahaya, namun dominasinya mulai bergeser karena masyarakat semakin peduli pada kesehatan mental dan membutuhkan solusi.

Sebuah tulisan wartawan dapat dinilai memiliki bobot bagus bila tetap mengedepankan kontrol sosial, namun mampu memberikan solusi atau jalan keluar dari sebuah masalah.

Penulis adalah Kepala Seksi Advokasi dan Pembelaan Wartawan PWI Provinsi Bengkulu periode 2021-2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.