Oleh Iksan Agus Abraham
Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) naik kelas jadi tranding topic sekarang . Dimana-mana program tersebut menjadi perbincangan, serta menjadi harapan pengusaha, terutama usaha kecil menengah agar memiliki daya saing di Pasar Global.
Merujuk dari Link UMKM https://Linkumkm.id disebutkan maksud dari UMKM naik kelas ialah merujuk pada langkah-langkah dan upaya yang diambil oleh usaha mikro kecil menengah (UMKM) untuk meningkatkan kapabilitas dan meningkatkan posisinya di pasar
Pemerintah bersama stakeholder, antara lain Bank Indonesia, Kementerian keuangan, Otoritas Jasa Keuangan dan Pemerintah baik Provinsi , Kota dan kabupaten se-Indonesia selalu mengupayakan agar UMKM naik kelas dapat diwujudkan melalui sinergi terpadu menuju pasar global. Bank Indonesia bersama Pemerintah dan pihak terkait kerap mengistilahkannya dengan UMKM Go Ekspor menuju Pasar Global atau dunia.
Bank Indonesia memandang, bila UMKM Go Ekspor bisa diwujudkan terutama usaha kecil, maka otomatis cita-cita agar memiliki daya saing di Pasar dunia bisa diraih. Bank Indonesia terjun langsung ke lapisan paling bawah bertemu dan menyerap masalah-masalah yang kerap dihadapi pelaku UMKM untuk Go ekspor
Sementara itu Pemerintah memberikan dukungan agar UMKM naik kelas wujudnya melalui APBN antara dengan alokasi pembiayaan murah, subsidi serta tata kelola perpajakan dengan berpihak pada kapasitas penguatan usaha. Pemerintah memberikan Kredit Usaha Rakyat (KUR), Pembiayaan ultra Mikro (UMi). Pemerintah juga mengucurkan anggaran di Kementerian UMKM berupa pendanaan langsung.
Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) memiliki peran strategis bagi pertumbuhan ekonomi Bangsa. Kita tidak boleh memandang enteng kontribusi atau sumbangan UMKM bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
Berdasarkan data dari Bank Indonesia diketahui jumlah pelaku sektor ini mencapai 97 juta jiwa atau sekitar 30 persen lebih dari seluruh jumlah Penduduk Indonesia sebesar 230 juta jiwa.Dari 97 juta pelaku UMKM itu berhasil menyerap tenaga kerja sebesar 97 persen dan berkontribusi kepada Pendapatan Domestik Bruto (PBD) sebesar 60 persen.
Dapat dibayangkan bila peran UMKM sekarang ini, bisa ditingkatkan melalui upaya-upaya dan langkah-langkah yang tepat agar UMKM menjadi lebih berdaya guna, berdaya saing dan UMKM bangkit akan jauh lebih besar efek ekonominya bila program UMKM naik kelas dapat diwujudkan.
Selain mampu memenuhi pasar dalam negeri yang sudah terbuka lebar juga bisa memenuhi kebutuhan Pasar Global, dengan keuntungan jauh lebih maksimal.Jelas hal tersebut dapat meningkatkan kontribusi Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dan akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat
Peran Bank Indonesia UMKM Naik kelas
Bank Indonesia (BI) telah mengambil peran, di antarannya melalui digitalisasi agar UMKM naik kelas menuju pasar Global. Mengutip bi.go.id Hal tersebut membuat cerita baru bagi UMKM di era Online seperti sekarang ini. Sebelum era online meledak, jual beli hanya lewat kios-kios atau toko. Tapi sekarang sudah bergeser berpindah ke layar, menyapa pembeli lewat berbagai kanal live marketplace. Digitalisasi membuat pasar berpindah dari lorong-lorong toko ke layar-layar smartphone.
Data nilai transaksi e-commerce di Indonesia meningkat dari sekitar Rp 205, 5 triliun pada tahun 2019 menjadi sekitar Rp 487 Triliun pada tahun 2024. Bahkan Pasar e-Commerce Indonesia di proyeksikan akan terus tumbuh menuju sekitar Rp 738 Triliun pada tahun 2025. Hal ini memperlihatkan bahwa digitalisasi bukan hanya tren namun sumber pertumbuhan ekonomi baru yang inklusif dan berkelanjutan.
Bank Indonesia termasuk kantor-kantor Perwakilan di setiap provinsi di Indonesia, tidak sekedar berteori supaya tercipta UMKM naik kelas, melainkan langsung terjun membantu, membina baik moril maupun materil kepada pelaku UMKM. Bank Indonesia terlebih dahulu bakal memetakan komoditas unggulan dari setiap daerah, barulah setelah itu mengambil langkah-langkah nyata agar UMKM sasaran tersebut bisa naik kelas menuju UMKM berdaya saing di Pasar Global.
Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Bengkulu telah memainkan peran tersebut, terutama sektor UMKM unggulan di Provinsi Bengkulu yakni Kopi Bengkulu. Seperti sudah diketahui bersama pada 7 September 2026 Pemerintah Provinsi Bengkulu terutama Pemkab kepahiang bersama Bank Indonesia Perwakilan provinsi Bengkulu telah berhasil mengekspor 19,2 ton kopi ke Italia, Nilai ekspor tersebut mencapai sekitar 71 ribu dollar Amerika atau setara Rp 1,2 Miliar.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia provinsi Bengkulu Wahyu Juwana Hidayat saat melepas ekspor tersebut mengatakan ekspor ini akan menjadi catatan bersejarah Bagi provinsi Bengkulu.
Ekspor Kopi sering dilakukan, bahkan mungkin setiap hari kita melakukan ekspor, namun yang monumentalnya ialah, ekspor yang tercatat berasal dari Bengkulu, surat keterangan asal barang berasal dari Bengkulu.
“Certificate of Origin (COO/SKA atau surat keterangan asal untuk mendapatkan tarif preperensi atau penurunan/pembebasan bea masuk itu berasal dari Bengkulu ini yang membanggakan kita, ‘’kata Wahyu saat memberikan sambutan.
Untuk kegiatan ekspor Bengkulu sudah biasa melakukan, dan rutin masuk dalam publikasi Badan Pusat Statistik, namun untuk komoditas Kopi selama ini tidak terdokumentasi berasal dari Bengkulu. Dengan adanya Ekspor Perdana Kopi Bengkulu ini, hal tidak akan terjadi lagi.
Pada sisi lain Bank Indonesia Perwakilan Bengkulu tidak saja melirik sektor perkebunan seperti kopi, Industri kerajinan terutama kain batik besurek, yang juga memiliki daya minat di level nasional termasuk akan di jajal untuk Go ekspor turut dikembangkan. Melalui kegiatan tahunan yakniKarya Kreatif Indonesia (KKI).
Penulis adalah Direktur Utama PT. Lintas Sumatera Media pengelola Web infosumatera.com










