Oleh Iksan Agus Abraham
BENGKULU, infosumatera.com-Dalam dunia ekonomi Pembangunan , dikenal sebuah istilah yakni, Trickle Down Effect. Bagi saya seorang jurnalis ekonomi amatir istilah ini sangat menarik.
Dikatakan menarik, karena istilah ini bakal mengajak kita berfikir, bahwa ekonomi pembangunan atau mebangun ekonomi itu, punya efek ke atas, bawah, atau ulu-ilir ditengok dari subjek pembangunnya.
Efek ke atas dan ke bawah atau ke samping hanya merupakan istilah saya saja buat menggambarkan efek rembesan punya aliran-aliran begitu luas, tidak cukup hanya dijelaskan melalui tulisan singkat ini.
Trickle Down Effect artinya sangat luas, tidak sesederhana, dari arti dua kata itu sendiri. Meski begitu, jurnalis ekonomi seperti kami di lapangan memahami Trickle Down Effect yakni efek rembesan, atau efek turunan.
Contoh untuk memahami kata ini, adalah, menggunakan permisalan, berivestasinya sebuah Perusahaan besar di daerah dengan membangun pabrik diarea terpencil. Selanjutnya memicu tumbuhnya ekosistem ekonomi di lokal, seperti warung makan dan transportasi di sekitarnya.
Dapat dijelaskan, Perusahaan melakukan investasi membangun pabrik sudah barang tentu akan membutuhkan banyak sekali tenaga kerja disedot dari Masyarakat sekitar pabrik. Aktifitas di pabrik dengan melibatkan ribuan orang, bakal membuka sektor pekerjaan lain seperti penyewaan rumah, usaha jasa, usaha makan minum transportasi dan lain-lain. Cantoh lain bertumbuhnya usaha-usaha kuliner di sudut-sudut Kota ikut memicu terjadinya efek rembesan.
Pemerintah sangat memberikan ruang untuk investasi berkembang, mempermudah perizinan, menawarkan model-model Kerjasama ekonomi efektif efisien tak lain bertujuan merangsang naiknya investasi dimaksud. Membangun jalan-jalan baru, serta memperbaiki jalan -jalan rusak, bagian dari Upaya membuka akses agar distribusi barang dan jasa lancar dari Masyarakat ke Masyarakat.
Lahan-lahan kosong, jadi incaran investor untuk membangun, membuat harganya meningkat, Sektor perhotelan ikut-ikutan tumbuh, termasuk pariwisata turut merasakan dampak itu.
Oleh karena itu masuknya investasi serta Pembangunan – Pembangunan oleh Pemerintah dengan melakuan penyerapan anggaran perlu didorong, agar aktivitas ekonomi menetes ke bawah. Data menunjukkan dari tahun ke tahun aktiftas belanja Pemerintah, baik sifat rutin maupun Pembangunan sangat besar kontribusinya buat menggerakan ekonomi di daerah.
Menjamurnya tempat-tempat makan ekslusif, dengan menu-menu murah terjangkau, jelas memuculkan efek ekonomi secara dahsyat. Para pengusaha kuliner-kuliner tersebut sudah tentu memnbutuhkan komoditas sebagai bahan pokok pembuatan makanan minuman mereka. Pada tahap ini lagi-lagi para petani akan diuntungkan.
Pembenahan fasilitas-fasilitas di Bandara-bandara, Terminal-terminal, serta Dermaga-dermaga, juga memiliki andil menciptakan Trickle Down Effet besar.
Nyamannya aktifitas manusia untuk datang dan pergi dari atau barang untuk masuk dan ke luar dari suatu tempat ke tempat lain, dapat menyebabkan efek rembesan bagi sektor transportasi menjadi berkembang.
Jasa paket pengiriman barang ikut merasakan dampaknya, meski angkanya belum dapat diukur baik terjadi peningkatan maupun penurunan bila dibandingkan dari tahun ke tahun.
Dengan begitu Trickle Down Effect, sangat didorong sekali agar digerakkan, bertujuan ada perputaran ekonomi dari sana. Pencairan Tunjangan Hari (THR)untuk Pegawai Negeri Sipil maupuan pegawai swasta momen Idul Fitri 1447H lalu sangat jelas memunculkan efek rembesan tersebut.
Puluhan triliun uang beredar di masyarakat, memicu aktifitas belanja meningkat seiring dengan tersedianya barang dan jasa dimasyarakat.
Pasar-pasar, toko-toko, serta tempat-tempat bisnis mendadak ramai paska mendapat Tunjangan Hari Raya, pedagang-pedagang, petani serta peternak kebanjiran order, para pengusaha sumringah dan tersenyum, karena Masyarakat akan membelanjakan uangnya untuk membeli keperluan hari raya.
Penulis Wartawan Ekonomi di Bengkulu









